Bab IV WAKALAH DAN SHULHU - Materi Fiqh Kelas X

Wakalah dan shulhu
Wakalah dan Shulhu

Wakalah

Pengertian

• Bahasa: mewakilkan.
• Istilah: mewakilkan atau menyerahkan pekerjaan kepada orang lain agar bertindak atas
nama orang yang mewakilkan selama batas waktu yang ditentukan.
Hukum: Mubah, tetapi bisa menjadi haram apabila yang dikuasakan adalah pekerjaan haram dan
menjadi wajib jika terpaksa harus mewakilkan dalam pekerjaan yang dibolehkan agama.

”Maka suruhlah salah seorang diantara kamu ke kota dengan membawa uang perakmu ini” (QS.Al Kahfi : 19).
“Dari Abu Hurairah ra.berkata : “Telah mewakilkan Nabi SAW kepadaku untuk memelihara zakatfitrah dan beliau telah memberi Uqbah bin Amr seekor kambing agar dibagikan kepada sahabatbeliau” (HR. Bukhari).

Rukun dan Syarat

Orang yang mewakilkan (memberi kuasa), syarat: mempunyai wewenang terhadap
urusan tersebut.
• Orang yang mewakili (diberi kuasa), syarat: baligh dan berakal sehat.
• Masalah yang dikuasakan, syarat: jelas dan dapat dikuasakan.
• Akad (ijab qabul), syarat: dipahami kedua belah pihak.

Syarat Pekerjaan yang Dapat Diwakilkan

• Pekerjaan yang diperbolehkan agama.
• Pekerjaan milik pemberi kuasa.
• Pekerjaan tersebut dipahami oleh orang yang diberi kuasa.

Habisnya Akad

• Salah satu pihak meninggal dunia.
• Salah satu pihak menjadi gila.
• Pemutusan dilakukan orang yang mewakilkan dan diketahui oleh orang yang diberi
wewenang.
• Pemberi kuasa keluar dari status kepemilikannya.

Hikmah

• Menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan cepat.
• Saling tolong menolong antara sesama manusia.
• Timbulnya saling percaya dan mempercayai antara sesama manusia.

Sulhu

Pengertian

• Bahasa: damai.
• Istilah: perjanjian perdamaian di antara dua pihak yang berselisih / perjanjian untuk
menghilangkan dendam, persengketaan, atau permusuhan (menghilangkan hubungan
kembali).

Hukum: wajib

“Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Qs. Al Hujurat : 10).

“Perdamaian itu amat baik” (QS. An Nisa’ : 128).

Rukun dan Syarat

• Mereka yang sepakat damai adalah orang-orang yang sah melakukan hukum.
• Tidak ada paksaan.
• Masalah-masalah yang didamaikan tidak bertentangan dengan prinsip Islam.
• Dapat menghadirkan pihak ketiga jika perlu (QS. An-Nisa’ : 35).

Macam-macam Perdamaian

• Dari segi orang yang berdamai:
o Perdamaian antara sesama muslim.
o Perdamaian antara muslim dan non-muslim.
o Perdamaian antara imam dengan kaum bughat (pemberontak yang tidak mau
tunduk pada imam).
o Perdamaian antara suami istri.
o Perdamaian dalam urusan muamalah dan lain-lain.
• Dari segi masalah yang didamaikan:
o Perdamaian ibra’, yaitu mengurangi kewajiban dengan pembayaran sebagian,
seperti yang dilakukan oleh orang yang berutang piutang.
o Perdamaian mu’awadhah, yaitu menggantikan suatu hak dengan yang lain dengan
syarat seperti jual beli.

Hikmah

• Dapat menyelesaikan perselisihan dengan sebaik-baiknya. Bila mungkin tanpa campur
tangan pihak lain.
• Dapat meningkatkan rasa ukhuwah / persaudaraan antara sesama manusia
• Dapat menghilangkan rasa dendam, angkara murka, dan perselisihan di antara sesama
• Menjunjung tinggi derajat dan martabat manusia untuk mewujudkan keadilan

“Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adilah” (QS. Al Hujurat : 9).
• Mewujudkan kebahagiaan hidup baik individu maupun masyarakat.

LihatTutupKomentar